Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juni 2011

Antara Musik, Diary, Demonstrasi, dan Patah Hati (episode 2)

Berawal dari keanehanku dalam bidang musik, maka muncullah duo buku musik di kelas itu. Aku sebagai pemicunya, dan Zuzu sebagai korbannya. Karena melatih jari- jariku agar lancar bergerak diatas tuts piano, meja kayu ku pun sering ku pencet- pencet. Jari- jariku bergerak- gerak terus seakan sedang main piano. Hingga temanku yang duduk di depanku bilang, “ Jaimu sakit, El? Gerak- gerak sendiri.”

Meski tersinggung dan malu, toh akhirnya muncul penyelamat. Saat itu sedang demam serial Long Vocation di TV. Hampir semua anak di kelas nonton. Kebetulan tokoh utamanya, Sena, adalah mahasiswa jurusan musik dan guru les piano. Maka keanehan ku itu pun sedikit termaklumi. Kemudian Zuzu yang entah mengapa sangat senang pada serial itu, segera minta pada orang tuanya untuk membelikan piano. Sejak saat itu lah kami berdua rajin berdiskusi tentang lagu- lagu untuk latihan, kaset musik clasik, dan tuts piano. Ada perasaan keren, karena kami belajar membaca not balok. Ada perasaan aneh, tiap kami membicarakan lagu Bethoven, Mozart, Bach, atau Taikovsky. Dan begitu puasnya tiap kami berhasil memainkan satu lagu baru dari hasil latihan.

Aku pun berani menunjukkan pada Zuzu tiga buah lagu ciptaanku. Dia memujinya bagus, meski sebenarnya aku sadar betul itu teralu sederhana. Dia meminjam buku musik ku dan begitu pula sebaliknya. Kenangan saat kami tertawa terpingkal- pingkal karena tidak bisa mengikuti tempo lagu Rondo Ala Turca-nya Mozart.

Selain itu, aku pun termasuk sebagai anggota Marcing Band di sekolah. Aku sebagai menabuh Snar Drum. Dalam tim ini, ada 2 lagi bagian Snar Drum, mereka adalah dua dari anggota Gank gadis populer di sekolah. Selain itu satu orang bagian Tenor Drum, seorang bagian Bass Drum, dan juga tiga orang anggota melodi di Marchin Band. Kemudian pom pom girl-nya ada empat. Maka, muncullah kelompok Marcing Band di kelas ini. he..he..he..he..ketika kami sedang laku- lakunya tampil di berbagai acara, kelas langsung terasa sepi.

Waktu pun tanpa terasa berlalu begitu cepat. Hingga ujian akhir SMP pun tiba. Kami sibuk sekali belajar dan les. Maka piano kami pun merana. Marching Band dikurangi. Kenangan bersama kawan- kawan sekelas semakin terasa berwarna, karena kami pulang les di sekolah hingga sore.
Lalu, saat menunggu pengumuman kelulusan....aku mengejar ketinggalan latihan piano. Aku pun berhasil menguasai satu lagu baru. Bangganya aku. Hinga saat ini, itulah satu- satunya lagu paling rumit yang ku kuasai.

Aku bertekat, akan memperbanyak latihan dan melebarkan pengalaman. Niatanku aku akan belajar biola dan harpa juga. Mempelajari berbagai macam lagu- lagu clasik. Memburu partitur lagu clasic. Mendalami note balok. Cita- cita yang indah

Pada masa- masa kelas 3 SMP, aku menjalani hari- hari sebagai anggota kelas 3D yang rame, aneh, dan seru. Banyak kejadian yang menghiasi hari- hari ku di kelas itu.

Mulai dari cinta segi empat ga jelas antara aku, Zuzu, Sapu, Puji dan anak cewek kelas 3C. Gara- garanya si anak kelas sebelah yang terdeteksi naksir berat Sapu sejak kelas satu sirik banget ma Zuzui. Kebetulan Zuzunya juga suka ma Sapu. Eh..ternyata Puji, teman sebangku ku pun naksir abis pada Sapu. Nah, sebagai sohib mereka berdua (Puji dan Zuzu), aku netral saja. Celakanya Sapu duduk di depanku, sering ngobrol denganku pula. Jadi deh..aku dicemburuin Zuzu. Bahkan temen- temen sekelas langsung tahu kalau kami ada masalah, karena Zuzu tahu- tahu nangis- nangis gitu, mecahin penggaris, and ga mau bicara padaku gara- gara aku becanda dan ketawa- ketawa heboh sama Sapu pas Les. Ampun deh..kami khan membahas tentang lelucon konyol si Piput. Lalu saat wali kelas menghukum anak- anak yang dilaporkan sering ribut sendiri saat pelajaran, dan menukar teman sebangku beberapa anak. Naasnya si Puji di tuker sehinga dia berada di blok yang terpisah jauh dari Sapu. Ada acara nagis segala. Tambah puyeng deh diriku ini. Si Sapu bukannya membantu menyelesaikan masalah, dia malah curhat habis- habisan tentang anak kelas sebelah dan si Zuzu. Payah....

“ Aku bingung,El,” kata Sapu.
Aku diam.
“ Gimana ya?” tanya Sapu.
Aku diam.

(bersambung....)

Antara Musik, Diary, Demonstrasi, dan Patah Hati

(Bagian 1. Buku Musik)

Tak ada hubungan? Hm..kenyataannya itu sangat berkaitan sekali bagiku. Dimulai sejak tahun 2000, saat aku masih kelas tiga SMP.
Pertama kalinya aku pindah kelas, dari kelas E menuju kelas D. Pertama kalinya pula nomer absenku berubah dari nomer urut 1 jadi nomor urut 38. pertama kalinya pula aku berteman dengan orang- orang super aneh di kelas itu. Ada teori yang selama ini diam- diam kumunculkan, bahwa siswa- siswa di kelas D adalah orang- orang yang aneh. Terinspirasi dari tetangga kelasku, anak- akan kelas 1D. Lalu, kakak kelas 2D yang pernah duduk sebangku saat ulangan catur wulan.kemudian anak kelas 3D yang aneh pula. Akhirnya aku pun memiliki teori, bahwa anak kelas D aneh. Maka, betapa terkejutnya diriku ketika aku membaca pengumuman pagi itu, bahwa aku menjadi warga 3D dengan nyata. Hiks....

Hanya ada delapan orang yang aku kenal di kelas baru ku itu. Kebetulan mereka pun sekelas dengan ku saat di kelas satu dan kelas dua. Maka terintimidasilah aku dan ke tujuh temanku di kelas itu. Secara sadis, kami semua tidak mendapat kesempatan lain kecuali menempati bangku- bangku paling depan. Semua bangku di bagian belakang dan tengah telah dihuni oleh warga kelas D yang lama (yang sebelumnya anak kelas 1D, dan 2D). Dengan pasrah, kami pun berpasang- pasangan menempati bangku demi bangku yang tersisa. Ajaibnya lagi kami semua perempuan.

Maka dimulailah kehidupan dalam keanehan ini. Teman- teman baruku itu....macam- macam. Ada yang menjadi top rank sebagai siswa bolosan. Ada yang top rank sebagai gadis populer. Ada pula yang pandai sekali dan menjadi tumpuan kawan- kawannya saat PR harus dikumpulkan. Ada pula yang super cuek dan tidak peduli dengan cewe- cewe. Preman mania pun ada. Tampang seram, kata- kata selengek'an juga dada. Sungguh....gado- gado. Setelah hampir setengah tahun berlalu, ternyata kami pun mendapat rangking pertama sebagai kelas 3 yang paling susah diatur, nilai rata- ratanya rendah, dan banyak melawan...hiks...hiks...
Aku pun tak kalah anehnya. Setiap jadwal piketku, aku selalu membawa kemoceng dari rumah. Entah mengapa aku merasa bahwa nasibku dengan alat- alat kebersihan kelas tidak bagus. Meski KAS sudah dibelanjakan menjadi jam dinding, tiga sapu, dan satu kemoceng, secara ajaib dalam waktu satu sampai dua bulan inventaris kelas itu raib. Maka jadilah aku membawa kemoceng tiap hari Senin, sebagai wujud tanggungjawab ku terhadap kebersihan kelas hari itu.

Saat membeli jam dinding, kardus tempat jam itu pun berubah menjadi kotak Pizza palsu, lengkap dengan merk dan rasanya, ditambah salam- salam dari anak- anak sekelas. Bila saat mengumpulkan iuran tiba, maka kotak itu pun berubah menajdi kotak infak.

Pojokan barat kelas kami, berubah menjadi dinding salam- salam. Karena tiap hari kami harus geser satu meja dari depan ke belakang, dan tiap minggu geser satu blok ke kiri, maka pojokan kelas itu lah prasasti kelas kami yang mengukir macam- macam tulisan. Bahkan contekan mata pelajaran sejarah pun ada, sehingga menjadi berkah bagi siapa pun yang kebetulan duduk di sana pada saat THB. Sebelum lulus, wali kelas kami mengharuskan kami membersihkan tulisna itu, atau kami diancam tidak diluluskan. Hiks …..(bersambung)

Gag Gag Gag

Maka dimulailah cerita ini pada masa kegelapan, ketika lampu padam, dan ketakutan mencekam seisi desa. Pada saat itulah, aku mendapat pesan untuk membeli sekotak lilin sebagai penyelamat hidup teman- teman di pondokan KKN…..

Di tepi kolam ikan, di halaman bawah Green House, dengan ditemani suara jengkerik, aku dan dua orang lagi sedang mendiskusikan tentang kehidupan. Mulai dari tukang bakso yang kesasar di kuburan, keris bertahtakan permata yang dilarung ke laut kidul, hingga tengah malam berlari ke tepi selokan Van der Wick karena tersiksa oleh mimpi buruk. Semua itu begitu kental dengan mistik. Begitu mengerikan hingga bulu kuduk berdiri. Begitu menghanyutkan pikiran untuk makin paraniod menghadapi kegelapan yang mencekat. Aku ketakutan, pohon asem jawa yang berdiri tegak di hadapan kami tampak semakin angker. Suara air sungai yang mengalir tepat di samping Green house menambah aura mistisnya, mengingat bahwa konon di tempat tersebut ada genderuwo bersemayam. Hingga aku memutuskan untuk tidak kembali ke Grey House, memilih untuk menginap saja di sini, toh anak2 cewek di Grey House izin pulang.

Jam sudah menunjukkan pukul 2 malam, ketika diskusi itu diakhiri. Teman cewekku bergidik, kedinginan, dan segera menyembunyikan dirinya dalam selimut tebal di kamar. Karena penghuni kamar tidur cewek penuh, maka aku pun mengalah dan tidur di luar, di depan TV bersama seorang cewek lain yang memilih tidur diluar.

Mataku begitu sulit terpejam, aku tengkurap, aku miring, aku salah tingkah, namun tetap tak bisa tidur. Samar- samar aku mendengar suara motor dibawa turun ke halaman bawah (Green House punya semacam ruang bawah tanah dan halaman bawah. Hanya tangga tanah dengan batu sekedarnya saja yang menjadi jalan turun ke sana). Aku segera terjaga, duduk, mengamati keadaan sekitar, teman disampingku sudah terlelap, yang lain pun sudah terlelap di kamar. Kembali aku mencoba untuk tidur, tapi dinginnya lantai –aku tidur di atas selapis karpet yang lumayan tipis- semakin membuatku susah tidur. Ditambah lagi, hembusan angin malam menerobos masuk melewati celah di bawah pintu. Ough....aku menggigil kedinginan. Berkali- kali aku terjaga, memandang jam yang ku rasa begitu lambat bergerak. Badanku letih. Pikiranku lelah. Hingga adzan subuh berkumandang.

Selesai adzan subuh, aku bangun. Mengumpulkan seluruh kesadaran yang tersisa, aku memutuskan kembali ke Grey House. Aku membayangkan kamar yang aman, yang terlindung dari tiupan angin malam, dengan kasur, selimut, dan bantal yang nyaman. Ada sedikit penyesalan mengapa aku tak kembali saja tadi. Namun pikiran warasku mengajakku untuk segera pulang. Aku membuka pintu peralahan agar tidak membangunkan yang lain. Begitu aku berada di halaman, aku terkejut, karena motorku ada di sana. Di halaman bawah. Lagi- lagi pikiran warasku mengajakku untuk segera berusaha membawa motor itu ke atas, namun, tenagaku tak cukup untuk mendorongnya ke atas, bahkan meski aku menstater motor, pun aku tak sanggup menanjaki tangga batu itu. ” Ah...bodo amat, aku mau pulang,” teriakku dalam hati. Aku mengaduk2 isi tasku, mencari kertas dan spidol. Aku menulis pesan bahwa aku pulang ke Grey House dan menitipkan motorku di sana, ku tinggalkan kunci di samping TV, dan aku akan kembali nanti siang setelah aku puas tidur. Begitu rencanaku. Cerdas, pujiku pada diri sendiri.
Maka, dengan setengah mengantuk, aku berjalan menuju Grey House yang berjarak sekitar 500m dari Green House.

Celakalah aku, yang tak berfikir waras 100%. Aku tak peduli dan ingin segera tidur nyenyak, sampai- sampai aku melupakan rute pulang ku. Bahwa aku harus melewati kuburan di tikungan, melewati jembatan yang- kata kormasitku- pernah muncul penampakan pemancing ikan yang menghilang setelah ditengok kembali, melewati tepi sawah, kemudian jalan setapak di tepi lahan tebu. Dan langit masih gelap.

Aku menggigil, berdebar, hampir terbirit- birit lari balik saat gerbang kuburan itu sudah tampak. Namun aku kelelahan dan mengantuk. Aku terlalu lelah untuk berlari.. Aku bertekad, bahwa apa pun yang akan muncul tiba- tiba dari kuburan itu menghadangku, tak akan ku pedulikan. Dengan setengah mengigau aku berguman, ” Aku ga ganggu, cuma lewat, aku cuma pengen segera sampai untuk tidur....jadi...jangan ganggu aku ya..” (dalam hati aku baca ayat kursi sampai ga inget berapa kali).

Huff...kuburan berlalu...negosiasiku berhasil. Aku masih terkantuk- kantuk. Bahkan kesandung di jalan beraspal, tanpa tahu ada batu beneran atau tidak.

Rintangan kedua, Jembatan.. sial..lampunya mati. Meski ada lampu jalan yang besar di ujung tanjakan menerangi, namun lampu di tengah jembatan itu berarti sekali meningkatkan yaliku bila menyala. Kakiku gemetaran, sial! Andai aku bawa motor, sepeda atau sepatu jet. Sayangnya itu tak ada. Lebih naas lagi, seekor anjing berjalan mendekati ku dari arah yang berlawanan. Busyet...mana gue takut anjing lagi. Telapak tangan ku berkeringat, sial, sial, sial...aku ketakutan. Ku lewati jembatan itu, sementara anjing sialan itu berdiri mengamatiku di ujung jembatan yang lain. Argh!!!!! Aku cuma pengen tidur! Bodo amat ma anjing, setan, penampakan atau apa pun!!
” Ga usah ganggu aku, Njing! Aku ngantuk banget. Ga kasihan liat aku?! Sana geh pergi..! Awas loe gigit gue! Dosa loe ganggu orang lagi ngantuk!” gerutuku pada si anjing. Anjing itu menatap ku. Nyebelin deh, tatapannya prihatin! Sial! Tapi yang penting ga digigit, disalak, atu dikerjar.

Hampir sampai di ujung tanjakan, di bawah lampu desa, ada nenek- nenek berdiri. Hah...apa lagi niy? Moga bukan nenek jadi- jadian. Si Nenek pun menatapku cukup lama, meyakinkan dirinya sendiri apakah aku setan ato orang gila, subuh- subuh keliweran di jembatan angker. Emang dia kira aku ga kalah kagetnya?!? Hampir loncat jantungku tadi pas liat siluetnya. Untung otak waras ku ngasih tau, kalo itu nenek yang tinggal di rumah di ujung tanjakan. Sebagai anak KKN yang baik, maka aku pun menyapa, “ Nuwun, Mbah...Nderek langkung....” Sekitar tiga puluh detik setelah aku menyapanya (coba praktekkan seberapa lama jeda itu), barulah si nenek menjawab, “Ngih....” dengna nada 100% ragu.

Haaaah...perjalananku kok ga habis- habis siy? Perasaan kalo pake motor cuma 5 menit deh, ni jalan kaki aja rasanya berjam-jam.

Berikutnya, sawah dekat SD...Senyap....huhuhu...tu sawah kalo pagi buta gini malah bikin gentar aja yah?? Biasanya juga ga ada serem- seremya, begitu liat di sebelah kanan ku sawah membentang begitu luas...lagi- lagi kesadaranku menciut digantikan ketakutan..

” Hiks..hiks...aku pengen tidur....,” rengekku pelan.

Badanku makin letih saja, dan aku sama sekali tak peduli dengan tanaman tebu yang sudah menjulang tinggi di sekitar jalan setapak menuju Grey House. Bodo! Bodo! Bodo! Gw mau tiduuuuuurrrrrrrrrrrrrrr...........!!!!!!!!!!!

Oh...belum pernah aku merasa bahwa Grey House begitu berartinya selama ini. Ketika aku menjulurkan tanganku membuka pintunya, aku merasa sudah memenangkan lomba marathon 20 KM (lebay) dan dihujani pita warna warni.... Aku gembira, terharu, dan bahagia. Kasur di kamar cewek yang hangat langsung terbayang olehku....indahnya....bantalku...selimutku....Oh....nyamannya....

Aku mempercepat langkahku dan segera menuju kamar. Tapi, mataku yang sudah terlatih dalam gelap ini menangkap sebentuk objek samar-samar di atas kasurku. Penuh emosi, aku menekan sakelar lampu, dan ternyata.....
”Om????? Don???” seruku penuh kekecewaan yang berarti.
Mereka terkejut, dan reflek mencoba bangkit dari tidur...., ”Oh...bunda....” kata mereka kompak, lalu tidur lagi...

Seketika aku menitikkan air mata. Kasur kami (para cewek)...selimut kami...bantal kami...hiks...yang wangi....hiks.....dipake....hiks...seeediiiihhhnyaaaaa.............

”Huhuhuhu...hiks...hiks...hiks....kalian jahat.....” sambil menelan pahitnya kekecewaan dan kelelahan yang sangat, aku mengalah dan menempati kamar cowok yang kosong...hiks...yang berantakan....hiks...yang bau jamur.....hiks.....

” Hwa....hwaaaa......hwee.....hweeee........,” aku menangis kesal sambil melempar apa pun yang teronggok dengan anehnya di kasur cowok2 itu. Ku lempar sarung, celana dan kaos mereka ke pojokan kamar, aku ga peduli! Aku marah! Aku capek! Aku ngantuk! Dan aku membutuhkan tempat tidur.........Hweeee....ya sudahlah...yang penting tidur.....

Seketika aku menjatuhkan diri ke kasur, tak peduli apa pun, pokoknya aku cuma pengen tidur. Meski kenangan perjalananku yang panjang itu berputar kembali di otakku, meski perih...aku hanya memerlukan beberapa detik untuk terlelap dan tak ingat apa- apa lagi. Tidur pulas sampai puazzzzz!!!!

Setelah bangun...dua orang rekan satu sub unitku itu minta maaf dan menyesal. Mereka prihatin melihat diriku. Dan... mereka tertawa ngakak mendengar ceritaku. Bukan hanya mereka....semua anak di sub unit 1 dan 2 ngakak, ditambah bapak, ibu, mas, dan mbak pondokan, ngakak. NGAKAK SEMUA!!!!!! NGAKAK!!!! :(

Selasa, 28 Juni 2011

Kekonyolan Taraf Internasional


Legenda kekonyolan hidupku tidak berhenti begitu saja. Kali ini kekonyolan itu menyangkut- nyangkut nama baik Lab, Instansi, Bangsa dan Negara. Hmm..sebut saja kekonyolan taraf internasional.
Sejak bulan ini, ada mahasiswa Jepang yang bergabung di Lab tempatku melakukan riset. Ku pikir dia hanya berkunjung beberapa hari, say hello, tanya- tanya, piknik- piknik, lalu pulanglah dia ke negara asalnya. Maka selama kira- kira satu minggu aku menghilang, tak bertandang ke Lab untuk menghindari perjumpaan dengan si Jepang. Aku tidak mau bertemu bukan karena aku tak suka, namun karena aku sedang mengerem kegilaan ku terhadap Jepang sebab aku memerlukan energi ekstra untuk mengolah cerita berlatar belakang Jawa,(asal tahu saja, aku selalu menggunakan nama dan kebudayaan Jepang dalam cerita bikinanku karena terpengaruh oleh comik). Banggalah diriku karena merasa sudah bisa mengatur strategi untuk menyelamatkan kemurnian otakku.
Sayangnya, tak ada seorang pun anak Lab yang memberitahu ku bahwa Jepang-san itu berencana tinggal, bahkan sampai menyewa ruangan bertarif 1,8jt/bulan di wisma kampus. Melesetlah perkiraanku.
Hari itu, dengan semangat untuk memulai penellitian, dan perasaan aman karena tidak terancam bertemu Jepang-san, aku datang ke Lab dengan senyum cerah ceria tralala hula hula. Siapa yang menyangka bahwa kenyataan tak seindah khayalan.
Aku sedang sibuk membaca tulisan di salah satu jejaring sosial, ketika tiba-tiba ada seseorang masuk menyalakan lampu Lab dan menyapa, "Hallo..." Aku bengong, meski sempat menjawab sapaan itu secara reflek. Lha kok Jepang-san yang muncul? Waduh!
Alarm tanda bahaya sudah berbunyi. Kekonyolan itu pun dimulai.
Gara- gara ada penggunaan komputer tambahan di Lab, colokan kabel yang biasa digunakan Jepang-san jadi terpaksa ngendon di bawah meja. Dia mulai celingak celinguk mencari colokan ajaib itu. Sebagai manusia yang tanggap pada keadaan, akhirnya aku menerangkan pada dia bahwa colokannya harus di tarik keluar dulu. Namun untuk menarik colokan itu keluar, aku harus mematikan sambungan listrik, atau aku akan kesetrum konyol. Artinya, aku harus mematikan komputer yang ku gunakan untuk berjejaring sosial.
Dengan cengiran yang tak berguna, aku bilang, "Sebentar, saya matikan ini dulu."
Dia menatapku dan berusaha bersimpati pada kegiatanku. "Kalo mau pakai dulu, silakan. Saya dua jam saja pakai ini."
"Tidak usah. Ini tidak penting," jawabku sambil menunjuk tampilan jejaring sosial di layar sambil menahan malu. Ketahuan kan di Lab kerjaannya ngapain.
"Oo.......Ya," jawabnya kayak samurai di anime- anime.
Aku kesotan di lantai, berusaha meraih colokan ajaib itu dan berusaha mencabut salah satu kabel yang digunakan untuk komputer tambahan. Ternyata tak semudah bayanganku. Gara- gara ada di bawah meja,kabel itu jadi dua kali lipat lebih susah dicabut. Aku tak dapat membayangkan ada makhluk aneh, besar, kelesotan, dan disaksikan Jepang-san, sedang sekuat tenaga narik kabel. Setelah perjuangan yang cukup memakan tenaga, terbebaslah colokan ajaib itu sehingga bisa dijangkau kabel Laptop Jepang-san.
Aku bernafas lega. Fiuh...selesai deh, tinggal kabur ke museum dan biarlah Jepang-san sendirian. Sayang sekali, lagi-lagi Tuhan menggariskan jalan hudipku menuju arah yang ganjil.
Jepang-san tampak panik. Dia celingak celinguk mencari sesuatu di kolong meja. Aku jadi terbawa suasana melihat kegiatannya dan ikut celingak- celinguk. Cukup dengan tatapan bertanya- tanya, si Jepang sudah mengerti bahwa aku terheran- heran dengan polah tingkahnya.
"Kabel saya tidak ada," katanya.
Hah?! Mampus aku!
Jepang-san langsung tengkurap di atas meja Lab, mencari kabelnya, berharap kabel sialan itu jatuh pada celah antara dinding dan meja. Dia mulai menarik- narik kabel-kabel yang berseliweran di sana. "Mungkin jatuh di sini," katanya lagi.
Aku mengingat- ingat, memang dia selalu meninggalkan dua kabel di meja kerjanya bersamaan satu bendel fotocopy jurnal. Lhah, kemana tu kabel? Kecepatanku menganalisa keadaan menemukan bahwa kabel merah miliknya teronggok di atas meja. Lalu kemana kabel satunya?! Aku mulai panik.
Dia sudah selesai mengobrak- abrik celah dan menarik- narik kabel yang ada. Tampangnya semrawut. Sembari membersihkan tangannya dari debu yang menebal pada celah itu, dia menuduh, "Seseorang ambil. Seseorang curi."
Wadaaaaahh......!!
"Enggak....Enggak..," jawabku setengah histeris, berusaha meyakinkan dia bahwa di Lab kami tak pernah ada kasus pencurian.
Dia mulai heboh, muter- muter ke penjuru Lab mencari kabel sialan itu. Aku tak mau kalah, aku pun segera menarik berbagai macam kabel yang ada di bawah meja komputer. Kredibilitas Lab, Jurusan, Fakultas, dan Bangsaku dipertaruhkan di sini, di hadapan Jepang-san!
"Ada yang ambil. Mungkin dicuri. Seseorang curi," ocehnya tak karuan.
Aku hampir saja berteriak memperingatkannya agar tak menuduh membabi buta, namun tanganku berhasil meraih sebuah kabel dari bawah meja. "Ini?" tanyaku bersemangat, berharap itulah kabel sialan yang dia cari.
"Bukan," jawabnya.
Busyet dah...salah!
Aku tak menyerah, dan berusaha menarik kabel lain. "Ini?"
" Bukan,"jawabnya dengan muka ditekuk- tekuk. " Seseorang ambil kabel saya. Mungkin ada yang ambil."
"Tidak...Tidak...," jawabku ngotot.
Dia muter- muter tidak jelas lagi di penjuru Lab, mencari kabel sialan yang tadi tak berhasil di temukannya. "Seseorang..."
STOP! Bentak ku dalam hati.
"Apa warnanya?" tanya ku tegas. Lebih tepatnya mulai kesal.
"Hitam,"jawabnya mulai putus asa. ( hohoho ku kira warnyanya putih..).
Lalu pikiran logisku memerintahkan aku untuk menelepon seseorang yang mungkin mengetahui dimana kabel sialan itu berada. Sembari menanti sambunganku tersambung, aku menuju ruangan laboran yang terkunci, instingku di sana dapat ku temukan jawabannya.
Sedang sibuk menelepon, aku sempat melihat dirinya. Jepang-san duduk di kursi singgasananya, tampak pasrah dan mulai sok cuek dengan membaca jurnal. Tapi dia sempat- sempatnya ngomong, " Tidak apa- apa, mungkin ada yang curi."
" Tidaaak...Tiiiidaaak.....," jawabku putus asa.
Sambungan terhubung. Segera aku nerocos minta keterangan pada lawan bicaraku di telepon. Tatkala aku berhasil membuka ruang laboran yang terkunci, aku mendapati kabel sialan itu sedang santai- santai nongkrong di atas CPU rusak. "Dah, mba. Udah ketemu," jawabku mengakhiri telepon.
Aku lega sekaligus jengkel. Ku raih kabel sialan itu, lalu segara aku menyodorkannya pada Jepang-san, "This is yours."
Dia langsung menyambar kabel sialan itu, "A!..Terimakasih."
Aku tak menjawab, hanya dengan seringaian tak jelas maknanya yang ku tujukan pada Jepang-san.
Selesailah perjuanganku. Aku tak pernah menyangka, pertama kalinya berinteraksi dengan Jepang-san adalah gara- gara kabel.
Endingnya? Aku masuk museum, mendinginkan kepalaku, kemudian bekerja di sudut Lab yang jaraknya paling jauh dari singgasana Jepang-san. Aku sedikit iri pada adik tingkatku yang hanya nguping di museum mendengarkan dialog aneh itu. Huhuhuhu....kenapa harus ak?? Hweee
T~T